Monthly Archives: March 2022

LDII Jatim Tingkatkan Pengelolaan UB, Dorong Kemandirian Ekonomi

DPW LDII Jawa Timur melalui Biro Ekonomi, Pemberdayaan Masyarakat (EPM) menggelar webinar entertainment mewujudkan kemandirian ekonomi, Minggu (20/3). Kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengelolaan Usaha Bersama (UB) yang mayoritas dikelola oleh PC LDII.

Ketua Forum Komunikasi Usaha Bersama (Forkom UB) Jawa Timur, Endra Mochamad Nurdin mengatakan dalam mengelola UB harus mengikuti perkembangan zaman. Ia mengungkapkan perubahan yang jelas dirasakan ialah perkembangan kemajuan teknologi.

“Teknologi semakin maju, maka dari pembina, pengawas, dan pengurus UB, otomatis bisa melihat apakah bisnis ini masih cocok dengan bisnis-bisnis terdahulu, atau harus berpindah ke ranah bisnis yang baru. Jika tidak, kami (UB) hanya menjadi target pasar, bukan pemain,” ungkap Endra.

Menyikapi tantangan tersebut, menurut Endra, pengelola UB membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang pandai dalam membaca situasi dan mencari peluang. Selanjutnya, bersama-sama menyatukan persepsi antar pengurus dan tujuan UB.

“Pengurus UB tak boleh merangkap jabatan. Ketua UB tak boleh merangkap pekerjaan sekretaris ataupun bendahara. Ketua tugasnya fokus memikirkan bisnis plan, bagaimana cara bisnis itu berhasil,” ungkapnya.

Endra meyakini, bila setiap kali usaha itu terus dilakukan, maka ide bisnis bermunculan, sehingga akan menjadi pemain, bukan lagi menjadi target pasar. Ia menambahkan, peningkatan SDM yang profesional dan mumpuni dalam mengelola UB tentunya akan berdampak positif pada kepercayaan konsumen.

“Bila, pengurus UB rekam jejaknya jelas, didukung SDM yang mumpuni, serta melibatkan dewan pengawas dan pembina, maka dapat meningkatkan trust (kepercayaan) dan mudah mendapat investor,” imbuh Endra.

Webinar diikuti sedikitnya 95 titik studio mini. Dok: Lines Jatim.
Webinar diikuti sedikitnya 95 titik studio mini. Dok: Lines Jatim.

Ketua Biro EPM DPW LDII Jawa Timur, Dadang Zahrawanugraha, mengatakan Forkom UB telah berlegalitas perusahaan PT Usaha Bersama Jatim. Hal tersebut dalam rangka membangun kepercayaan konsumen dan para investor. “PT Usaha Bersama Jatim memiliki produk pelayanan transaksi digital syariah bernama UBpay. Produk tersebut memudahkan transaksi pembayaran listrik, air, pulsa, dan lain sebagainya,” ujar Dadang.

Ia menambahkan, pihaknya tengah mengembangkan toko retail modern bernama UBMart di Jombang dan Sidoarjo. Selain itu, PT Usaha Bersama Jatim juga menggandeng himpunan pengusaha LDII dalam mengembangkan bisnis kuliner Ayam Tulang Lunak (ATL) yang tersebar di Malang dan Kota Batu.

Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur KH Moch Amrodji Konawi pada sambutannya mengatakan kegiatan webinar entertainment merupakan program kemandirian ekonomi syariah bagian dari delapan klaster kontribusi LDII.

Amrodji merinci, delapan klaster kontribusi LDII yaitu kebangsaan, keagamaan, ekonomi syariah, pendidikan karakter, kesehatan herbal, ketahanan pangan dan lingkungan, teknologi informasi, serta energi baru terbarukan.

Amrodji berharap dengan adanya webinar entertainment ini dapat melahirkan entrepreneur baru. Bila entrepreneur terus bermunculan, maka akan menguatkan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia.

Share Button

Ponpes Al Ubaidah Kedepankan Kebangsaan untuk Dakwah di Tengah Pluralitas Bangsa

Nganjuk (28/2). Di tengah keberagaman suku, agama, dan ras bangsa Indonesia terbukti mampu merekatkan persatuan bangsa dengan kuat. Dai dan daiyah memiliki peran besar dalam menjaga ikatan itu, bukan menjadi pemecah belah modal sosial bangsa tersebut.

“Kami Ponpes Al Ubaidah Kertosono yang menjadi pintu akhir dalam menguji kemampuan para santri, yang kemudian disebarkan ke majelis taklim yang dinaungi LDII memiliki kewajiban besar dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono, Nganjuk, KH Ubaidillah Alhasaniy, saat ditemui di kantor ponpes pada Senin (28/2).

Mereka, para juru dakwah LDII dan ormas-ormas Islam lainnya, ia harapkan sebagai penjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Menurutnya, selaras dengan program kerja “LDII untuk Bangsa” yang berisi delapan bidang, kebangsaan ditempatkan pada urutan pertama.

“Kami sebagai pusat pelatihan dan pengujian mubaligh dan mubalighoh untuk LDII, harus menyelaraskan hal tersebut. Sejak 1972, kami menegaskan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah final,” ujar Kyai Ubaidillah Alhasaniy yang sering disapa Kyai Ubaid ini.

Ia menegaskan, pihaknya harus bekerja sama dengan semua pihak agar pandangan kami terinformasikan dengan baik kepada masyarakat Indonesia. Selama ini, pemateri-pemateri ia undang dari para akademisi dan praktisi. Pada awal 2022, ia membuat program kerja, dengan memasukkan pemateri dari unsur Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kodim, dan Polres Nganjuk, “Tujuannya agar lebih inklusif, lebih dikenal di pesantren kami berada,” pungkasnya.

Program tersebut menjadi agenda rutin, mengingat sebagai pesantren yang berfungsi sebagai pintu terakhir melepas juru dakwah, “Maka para santri yang nantinya terjun di tengah masyarakat harus memahami kebijakan pemerintah terkait dakwah sebagaimana petunjuk Kemenag dan MUI,” ujarnya.

Sementara itu, sebagai bagian rakyat Indonesia yang berasas Pancasila, KH Ubaid memaparkan bahwa para juru dakwah harus memahami wawasan kebangsaan, bela negara, dan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat atau Kamtibmas.

“Untuk itu kami mengundang Polres dan Kodim Nganjuk untuk memberi pemahaman mengenai wawasan kebangsaan, bela negara sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menghormati jasa para pahlawan,” ujar Kyai Ubaid yang juga pengurus Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII.

Ikannya Ditangkap, Airnya Jangan Keruh

Ketua Komisi Fatwa MUI Nganjuk sekaligus Pengasuh Ponpes Darul Ulil Albab KH Kharisuddin Aqib, saat memberikan materi etika berdakwah di tengah pluralisme bangsa pada Sabtu (26/2) di Ponpes Al Ubaidah. Dok. Ponpes Al Ubaidah.

Program kerja Ponpes Al Ubaidah tersebut disambut baik oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Nganjuk, sekaligus Pengasuh Ponpes Darul Ulil Albab KH. Kharisuddin Aqib. Menurutnya, karena kurang informasi dan ketidaktahuan publik bisa menyebabkan kesalahpahaman.

“Bila melihat ratusan santri tiap bulan terserap ke kelompok-kelompok pengajian LDII, prestasi Ponpes Al Ubaidah layak dicemburui dalam berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujar KH Kharisuddin.

Menurutnya, dengan prestasi tersebut, Ponpes Al Ubaidah penting bersinergi dengan berbagai pihak, agar tidak menimbulkan kecemburuan yang memperkeruh suasana, “Orang kalau tidak tahu, tidak merasakan bisa salah paham. Tapi kalau saling mengerti dan bekerja sama ikannya bisa diambil, tapi airnya tidak keruh,” ungkap memberi gambaran kondisi dakwah di tengah masyarakat yang plural seperti Indonesia.

Ia mengajak para santri Ponpes Al Ubaidah untuk berdakwah dengan ajakan yang baik, yang menyejukkan, dan tidak menyalahkan juru dakwah lainnya, “Alquran dan Alhadits sebagai sumber pedoman umat Islam memiliki banyak wajah, dzuwajihin satta, sehingga perspektif atau fiqihnya menjadi bermacam-macam,” ungkapnya.

Untuk itu, perbedaan-perbedaan itu jangan sampai menyakiti, menyinggung dan mengejek juru dakwah lainnya, “Para juru dakwah harus saling menjaga, karena semuanya mengajak kepada jalan Allah untuk kebaikan umat manusia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Nganjuk, Mohammad Afif Fauzi, saat ditemui di Ponpes Al Ubaidah usai membawakan materi etika berdakwah mengatakan kondisi masyarakat yang majemuk, menuntut setiap umat beragama memiliki kewajiban menjaga perdamaian.

Ia mengatakan moderasi beragama menjadi prioritas Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, “Moderasi beragama merupakan upaya agar kehidupan beragama tidak menimbulkan perselisihan, tapi beragama untuk menebar kedamaian, kasih sayang di manapun, kapanpun, dan kepada siapapun,” ujar Afif.

Menurutnya, fanatik beragama itu diperbolehkan. Namun, jangan sampai menyalahkan orang yang berbeda agama atau keyakinan, “Agama itu hadir di tengah kita untuk mengangkat harkat martabat manusia, itulah pentingnya moderasi beragama. Agar kehidupan yang harmonis bisa diwujudkan di negara kita tercinta,” imbuhnya.

Menurutnya, para juru dakwah memiliki tugas untuk menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat, bahwa keragaman keyakinan dan etnik bukan dalih untuk berkonflik. Tapi kekayaan umat manusia, bahkan menjadi kekuatan bagi umat manusia untuk saling kenal dan berkolaborasi untuk kemaslahatan bersama.

“Bagi mereka yang tidak seiman, umat manusia bersaudara dalam kemanusiaan, kita sama-sama manusia yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menginginkan manusia hidup rukun dan damai,” ujarnya.

Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso, menyambut baik tindak lanjut dari Program Kerja DPP LDII yang dilaksanakan Ponpes Al Ubaidah. Menurutnya, LDII adalah lembaga dakwah yang inklusif yang senantiasa menerima masukan dan bekerja sama dengan berbagai pihak, dalam mengatasi masalah kebangsaan.

Ia menegaskan, Ponpes Al Ubaidah sebagai pusat diklat mubaligh-mubalighoh LDII memiliki komitmen yang kuat dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa, “Meskipun kami Lembaga dakwah, kebangsaan tetap menjadi fokus utama kami. Bila Indonesia terombang-ambing dalam perpecahan, tentu umat Islam di dalamnya tak bisa bekerja dan beramal sholeh dengan baik, apalagi berdakwah,” pungkas KH Chriswanto. (kim/*)

Share Button